Minggu, 08 Maret 2009

Blog: Mamad Cempe has sent you private message

Just a reminder - click here to read your message from Mamad C:

http://www.flixster.com/user/mamadcempebalap/connect

Mamad C



This note was sent via Flixster by Mamad Cempe to mamadcempebalap.segar@blogger.com. If you prefer not to receive emails like this, tell us here.
Or you can notify us in writing to this address: Flixster, PO Box 40577, San Francisco, CA 94110

Minggu, 01 Maret 2009

Blog: Mamad Cempe has sent you private message

Just a reminder - click here to read your message from Mamad C:

http://www.flixster.com/user/mamadcempebalap/connect

Mamad C



This note was sent via Flixster by Mamad Cempe to mamadcempebalap.segar@blogger.com. If you prefer not to receive emails like this, tell us here.
Or you can notify us in writing to this address: Flixster, PO Box 40577, San Francisco, CA 94110

Kamis, 26 Februari 2009

Blog: Mamad Cempe has sent you private message

http://www.flixster.com/user/mamadcempebalap/connect

Mamad C



This note was sent via Flixster by Mamad Cempe to mamadcempebalap.segar@blogger.com. If you prefer not to receive emails like this, tell us here.
Or you can notify us in writing to this address: Flixster, PO Box 40577, San Francisco, CA 94110

Sabtu, 10 Januari 2009

kelompoknya mika

CSR, a Risky Bussinesss - Risk Management and CSR

Karlina Arfiani
Nurmala Filmika
Fildariani

Corporate Social Responsibility (”CSR”) merupakan bagian dari manajemen resiko dan manajemen resiko merupakan bagian dari CSR. Apabila kita dapat mengintegrasikan kedua disiplin manajemen resiko dan CSR, maka akan dihasilkan keuntungan dua kali lipat. CSR secara otomatis akan semakin melekat pada proses manajemen sebagai alat strategi pengambilan keputusan pada semua level semua bisnis.

EU mendefinisikan knowledge ekonomi sebagai 4 kunci masa depan, yang secara langsung berhubungan dengan CSR, yaitu :

  • Penggunaan elektronik dan ekonomi secara universal - Bisnis Google di China memimpin dalam hal web
  • Pemusatan teknologi digital masa depan
  • Pertumbuhan internet
  • Dan terbukanya pasar telekomunikasi- Perusahaan seperti Nokia yang memperluas pangsa pasar.

Pada diskusi ini, kita menginvestigasi peranan CSR dan manajemen resiko. Tanggung jawab perusahaan adalah memahami tugas mereka yang tidak hanya memperhatikan karyawan namun juga bertanggungjawab pada lingkungan sekitar dan masyarakat sekitar. Kegagalan perusahaan dalam hal ini akan merusak reputasi perusahaan.

Business case pada pengambilan keputusan yang bertanggungjawab secara social dapat digambarkan seperti perlunya CSR untuk dapat diintegrasikan ke dalam bisnis dengan menganalisa value chain, dan ini dibutuhkan perubahan strategi CSR - dari responsive CSR menjadi pro-aktive CSR.

Performansi perusahaan seharusnya diidentifikasi, dimanage, dan dan meminimasi resiko-resiko. Perusahaan membutuhkan perhatian untuk beberapa hal dalam perencanaan strategi palnning : keuntungan distribusi, keuntungan dan value, proses produksi produk dan akses.

Knowledge economy telah memberikan efek peningkatan volume informasi untuk investor dan analis ekuitas. Pada kenyataannya pasar ekuitas tidak menilai CSR, akan tetapi pasar menghukum perusahaan ketika ada yang salah, akibat dari kebijakan CSR yang rendah.

Meskipun begitu, kita seharusnya bertanya kepada diri kita. Apakah pasar menilai resiko? Pada teori finansial, capital asset pricing model (CAPM) telah banyak digunalan, model ini mengira bahwa semua investor dapat memgang berbagai macam investasi portfolio dengan memiliki owning stocks and bonds. Namun ketika resiko menjadi bagian dari investasi, kritikal isunya adalah penambahan investasi dapat mengakibatkan resiko portfolio. Resiko menjadi sentral nilai bagi investasi.

Konsekuensi knowledge economy yaitu informasi membuat manajemen resiko lebih siap digunakan untk para investor- sebgai contoh presentasi Prudential Plc’s Economic Capital Analyst, yang meliputi resiko di bebrapa sector , sebagai contoh , asuransi dan bank menjadikan manajemen resiko sebagai informasi laporan.

Knowledge economy telah merubah pandangan bisnis dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab social dengan mengubah argument dari hanya sekedar hubungan dengan public dan pemenuhan barang .

Mengacu pada dampak knowledge economy pada permasalahan bisnis untuk CSR dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab social, pada diskusi ini, kita akan fokus pada bagaimana kita dapat memberi kerangka kerja / tools pada perusahaan untuk memperjelas permasalahan bisnis tersebut untuk perusahaan mereka dalam hal menguntungkan investor.

Pelaku CSR seharusnya mengadopsi teknik tang digunakan oleh para manajer resiko. Mereka perlu mengambil pendekatan langkah demi langkah untuk menganalisa permasalahan yang dihadapi perusahaan, dengan tujuan untuk menunjukkan nilai CSR bagi bisnis yang dijalankan.

Pendekatan top down dalam membangun kerangka kerja manajemen resiko CSR telah digunakan. Dibawah model hokum internasional ini, deklarasi HAM internasional, hukum dan regulasi nasional digunakan sebagai acuan untuk manajemen resiko, sehingga perusahaan harus mematuhi hukum tersebut. Pendekatan bottom up diusulkan dimana titik awal analisis adalah perjanjian para stakeholder.

Pada diskusi ini, kami mengusulkan suatu alternative pendekatan bootom up yang mana resiko dianalisis untuk membentuk skenario berlawanan yang dihadapi perusahaan. Prosesnya melalui langkah demi langkah proses untuk menganalisa resiko yang dihadapi perusahaan dalam rangka membuat peratoran-peraturan CSR. Analisis seharusnya todak hanya fokus pada resiko perusahaan, tetapi juga meliputi resiko yang hadapi masyarakat.

EU’s Basel II Framework memperkenalkan suatu penedekatan industri standar untuk resiko operasional dalam perusahaan jasa keuangan - kerangka kerja ini dapat diperlengkap untuk mengkover CSR. Perusahaan menghadapi 3 tantangan kunci : manajemen resiko, pengukuran resiko, dan menerapkan manajemen resiko di bisnis mereka. Tehnik bottom up dan pengujian scenario digunakan diseluruh jasa keuangan di dunia. Sebagai contoh, Bank of Japan (BoJ) secara teratur melakukan analisis untuk menaksir dampak pada resiko berikut : gempa bumi, penipuan, perkara hukum, peninjauan kontrak, permasalahan system, rencana kelanjutan bisnis dan permasalahan tenaga kerja. Pada BoJ, Departemen Analisis Resiko telah melaksanakan CSR dengan nama berbeda.

Dalam diskusi ini, pendekatan bottom up untuk analisis resiko telah diuraikan yang mana dapat digunakan untuk menghubungkan CSR ke dalam manajemen resiko secara luas. Pendekatan bottom up dapat digunakan untuk mengusulkan KRIs dan KCIs untuk monitoring dan pelaporan manajemen resiko. Ini dapat digunakan untuk menyusun laporan resiko yang dapat digunakan oleh equity analysts dan stakeholder lainnya.

Informasi KRI dan KCI yang berkualitas baik dapat digunakan sebagai dasar penyusunan informasi CSR mengenai sinyal positif pasar sehubungan dengan manajemen resiko perusahaan. Informasi ini jika bertahan dan stabil selama periode tertentu, maka berarti pasar memberi nilai positif terhadap CSR.

Dalam knowledge economy, permasalahan bisnis CSR dapat dijumpai dalam manajemen resiko. Bagaimanapun juga, 49% manajer bisnis Eropa kelas atas percaya bahwa tujuan CSR yang utama adalah mengenai image. Bekerja dengan jelas diperlukan untuk memenangkan hati dan pemikiran para petinggi manajemen. Penggunaan kerangka kerja manajemen resiko bisnis yang sudah ada dapat membantu menyediakan jalan yang jelas untuk menanamkan CSR dalam manajemen bisnis, nilai pemegang saham dan komunikasi dengan stakeholder kunci. .

kelompoknya desti

Enterprise Risk Management (ERM)

Bagus
Desti

Windy

Pengertian ERM

Manajemen risiko perusahaan ERM (Enterprise Risk Management) dalam bisnis, termasuk metode dan proses yang digunakan oleh organisasi untuk mengelola risiko dan meraih peluang yang terkait dengan pencapaian tujuan-tujuan mereka. untuk menyediakan kerangka kerja manajemen risiko, yang biasanya melibatkan identifikasi keadaan atau peristiwa tertentu yang relevan dengan tujuan organisasi (risiko dan peluang), menilai mereka dari segi kemungkinan dan besarnya dampak yang menentukan respon strategi, dan pemantauan kemajuan. Dengan mengidentifikasi dan proaktif dalam menangani risiko dan peluang bisnis perusahaan melindungi dan menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan, termasuk pemilik, karyawan, pelanggan, regulator, dan masyarakat secara keseluruhan.

Tujuan dari program ERM (Enterprise Risk Management)
Tujuan dan tantangan untuk ERM ini adalah meningkatkan kemampuan dan koordinasi, integrasi, sedangkan output untuk menyediakan gambar unified risiko bagi para pemangku kepentingan organisasi dan meningkatkan kemampuan untuk mengelola risiko secara efektif.

Peranan COSO di dalam ERM
COSO "Enterprise Risk Management-Integrated Framework" yang diterbitkan pada tahun 2004 mendefinisikan ERM sebagai proses, yang dilakukan oleh suatu badan dari dewan direksi, manajemen, dan personil lainnya, diterapkan dalam pengaturan strategi dan di seluruh perusahaan, yang dirancang untuk mengidentifikasi potensi kegiatan yang dapat mempengaruhi kelompok, dan mengelola risiko yang akan memakan waktu dan resiko, untuk memberikan jaminan yang wajar mengenai pencapaian tujuan entitas. Pada tahun 1992, dewan mensponsori organisasi Treadway Commission (COSO) dengan dikeluarkannya laporan pengendalian internal. Internal Control-Integrated Framework, yang sering disebut sebagai "COSO" memberikan suara dasar untuk membentuk sistem kontrol internal dan menentukan efektivitas mereka. COSO mendefinisikan pengendalian internal sebagai suatu proses, dilakukan oleh suatu badan dari dewan direksi, manajemen dan personil lainnya. Proses ini dirancang untuk memberikan jaminan yang wajar mengenai pencapaian tujuan dalam efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Beberapa penjelasan mengenai Pengendalian Internal, yaitu :
  • Pengendalian internal adalah suatu proses. Ini merupakan suatu cara untuk mengakhiri, tidak selesai dengan sendirinya.
  • Pengendalian internal tidak hanya didokumentasikan oleh kebijakan manual dan bentuk. Sebaliknya, ia diletakkan dalam oleh orang-orang di setiap tingkat organisasi.
  • Pengendalian Internal hanya dapat memberikan jaminan yang wajar, bukan jaminan mutlak, untuk sebuah entitas manajemen dan papan.
  • Pengendalian internal yang diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan dalam satu atau lebih kategori terpisah tetapi tumpang tindih.
COSO ERM Framework yang memiliki delapan tujuan Komponen dan empat kategori. Itu adalah perluasan dari COSO Internal Control-Integrated Framework yang diterbitkan pada tahun 1992 dan diamandemen pada tahun 1994. Delapan komponen - komponen tambahan adalah:
  • Lingkungan internal
  • Menetapkan tujuan
  • Identifikasi event
  • Risk Assessment
  • Respon risiko
  • Kegiatan pengawasan
  • Informasi dan Komunikasi
  • Pemantauan
Tujuan empat kategori komponen adalah:
  • Strategi - tujuan, dengan mendukung misi organisasi .
  • Operasi - efektif dan efisien penggunaan sumber daya
  • Laporan Keuangan - keandalan operasional dan laporan keuangan
  • Compliance - sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku

Gambar 2.1 Komponen COSO ERM Framework

Internal audit
Pengendalian internal merupakan bagian integral dari manajemen risiko perusahaan. Internal Auditor memainkan peran penting dalam mengevaluasi proses manajemen risiko organisasi advokasi yang terus ditingkatkan. Namun, untuk melestarikan organisasi independen dan obyektif itu, Audit Internal standar profesional menunjukkan fungsi yang seharusnya dan tidak langsung mengambil tanggung jawab untuk membuat keputusan manajemen risiko bagi perusahaan atau mengelola fungsi manajemen risiko.

Keuntungan dari Audit COSO

Efektivitas
Ujian lima komponen COSO kontrol memberikan fondasi yang kuat untuk menentukan tingkat jaminan yang diberikan oleh kontrol.
Efisiensi
Fokus pada satu tujuan COSO kategori penjaga terhadap mahal "lingkup merayap."
Comparability
Menggunakan kerangka umum audit dan penilaian sistem yang memungkinkan kontrol dalam berbagai segmen usaha yang akan contrasted.
Komunikasi
COSO dalam diskusi dengan klien mereka dalam meningkatkan pemahaman tentang konsep kontrol
KomiteAudit
Laporan dari segi kerangka COSO membantu menggambarkan kekuatan dan kelemahan dari sistem kontrol internal.

Rabu, 07 Januari 2009

kelompoknya yulia

Prinsip-prinsip Manajemen Risiko untuk e-banking

Ardi Risdianto
Yulia Wahyuningsih
Yuliasih Lestari

Inovasi teknologi yang berkelanjutan dan kompetisi antar bank menuntut produk dan pelayanan dari bank menjadi lebih mudah diakses dan digunakan oleh pelanggan dimana saja dan kapan saja, untuk itu dibutuhkan sistem distribusi elektronik yang biasa disebut dengan e-banking. Namun demikian pengembangan e-banking memiliki risiko yang besarnya sama dengan keuntungan penggunaannya.
Komite Bassel EBG mengharapkan risiko yang terjadi dengan pengaplikasian e-banking ini diatur dan diidentifikasikan secara hati-hati berdasarkan karakteristik dasar dan tantangan yang terjadi dalam penerapan e-banking. Selain itu kemudahan dalam penggunaan layanan e-banking ini juga menimbulkan beberapa ancaman. Manajemen risiko disini terbagi kedalam 3 kategori :

A. Board and Management oversight( Prinsip 1 sampai 3)
  • Manajemen kesalahan aktivitas e-banking yang efektif
  • Pembuatan sistem kontrol keamanan yang komprehensif
  • Kesatuan antara ketentuan manajemen kesalahan dan penjalinan hubungan dengan pihak ketiga.
Direktur dan manajemen senior bertanggungjawab pada pengembangan strategi bisnis perusahaan dan diharapkan dapat menetapkan sebuah sistem manajemen terhadap kesalahan yang efektif dari risiko yang ada. Manajemen kesalahan yang efektif diharapkan dapat memberikan arahan review dan dapat menerima kontrol keamanan dari semua aspek dari bank, seperti perawatan dan pengembangan infrastruktur keamanan, dimana digunakan sebagai pelindung sistem e-banking dan data dari semua gangguan internal dan eksternal. Manajemen ini seharusnya juga mengandung sebuah proses yang komprehensif untuk mengatur risiko yang berhubungan dengan peningkatan kompleksitas dari sebuah peningkatan hubungan ke pihak ketiga, dan bagian lain yang berpengaruh dalam melakukan perbaikan terhadap sistem e-banking.

B. Security Control (Prinsip 4 sampai 10)
  • Keotentikan pelanggan e-banking
  • Transaksi e-banking yang accountability dan non-repudiation
  • Pengukuran yang tepat untuk menjamin pemisahan tugas
  • Otorisasi keamanan pada sistem e-banking, database dan aplikasi
  • Kesatuan data transaksi, catatan aktivitas dan informasi
  • Pembangunan audit pembersihan untuk transaksi e-banking
  • Kerahasiaan informasi kunci pada bank
Penjaminan kontrol keamanan aktivitas e-banking harus mendapat perhatian khusus dari pihak manajemen, sebab terjadinya peningkatan risiko sejalan dengan peningkatan aktivitas e-banking. Sistem keamanan ini seharusnya juga mengandung otorisasi pihak manajemen, sistem pengukuran yang otentik, logis, akses kontrol fisik , infrastruktur yang memadai, sistem keamanan yang dapat memberikan batasan, dan terbatas pada aktivitas pengguna baik internal maupun eksternal, kesatuan data transaksi, catatan aktivitas yang terjadi dan informasi yang ada. Sebagai tambahan audit pada sistem e-banking harus dapat terjamin dan terukur, dan untuk memelihara kerahasiaan informasi kunci pada sistem e-banking diperlukan sensitivitas informasi. Untuk mengurangi risiko yang terjadi, bank seharusnya memenuhi tersedianya informasi pada web site dan membuat sebuah parameter untuk menjamin privasi pelanggan.

C. Legal and Reputational Risk management. (Prinsip 11 sampai 14)
  • Pelayanan aktivitas e-banking yang terbuka
  • Kerahasiaan informasi pelanggan
  • Kapasitas, kontinuitas bisnis dan proses perencanaan dapat menjamin sistem dan layanan e-banking.
  • Perencanaan respon terhadap insiden
Untuk memenuhi harapan pelanggan maka layanan e-banking harus bersifat terbuka dimana dapat digunakan oleh semua orang. Namun untuk menjaga reputasi bank maka layanan e-banking juga harus dapat menjaga kerahasiaan informasi pelanggan. Selain itu terpenuhinya kapasitas, kontinuitas bisnis dan proses perencanaan yang efektif dapat menjamin lancarnya layanan sistem e-banking. Perencanaan respon terhadap kejadian yang tidak diinginkan juga diperlukan dalam menanggulangi terjadinya risiko legal dan reputasi.

kelompoknya irma

PopTools sebagai Program Alternatif untuk Analisis Resiko Kuantitatif

Astria
Christine
Irma


Beberapa Tools yang Terdapat dalam PopTools

Variabel Random
PopTools terdiri dari berbagai formula untuk membangkitkan nilai variable random dari distribusi berikut :Normal (Gaussian), Poisson, Binomial, Log-Normal, Gamma, Eksponensial, Binomial Negatif, Geometric, Korelasi, Beta.

Tools Simulasi
  • Monte-Carlo analysis
  • Sensitivity analysis
  • Integrate a system of ODEs
  • Numerical projection
Tools Statistik
  • Autocorrelation
  • ANOVA
  • Chi square
  • Regression
  • Goodness-of-fit
  • G-test
  • Mantel test
  • Principal components analysis

Aplikasi PopTools
Dalam sebuah peternakan ayam kampung terdapat ND subklinis dengan perkiraan prevalensi (p) 10%, berapa ayam yang sakit (subklinis) yang akan terdeteksi (n) apabila kita mengambil sampel (s) 100? (Asumsi test yang gunakan sempurna). contoh soal tersebut diatas dapat dihitung dengan menggunakan PopTools, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Klik PopTools (Gambar 2)
2. Pilih Random variable
3. Maka akan muncul Gambar 3.
4. Pilih Distribusi (dalam hal ini pilih distribusi binomial)
5. Isi parameter-output cell diisi dengan cell di excel dimana kita akan menempatkan hasil 6
. Number diisi dengan nilai s (klik cell nilai s)
7. Probability diisi dengan nilai p (klik cell nilai p)
8. Length diisi dengan berapa banyak perhitungan yang akan dipakai (untuk contoh ini dipakai 100)
9. Klik “Go”


Maka setelah melalui perhitungan, dapat dilihat bahwa berdasarkan ringkasan statistiknya PopTools akan menunjukan hasil yang sedikit berbeda tapi mempunyai distribusi nilai yang hampir sama. PopTools akan memberikan hasil nilai rata-rata mendekati 10 dengan nilai minimal 2 dan maksimal 19. Nilai-nilai ini akan berubah setiap kali kita menekan F9.